Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Juli 2021

ASO Semakin Dekat, Kominfo Bidik Keluarga Penerima 6,7 Juta Set Top Box TV Digital Gratis

ASO Semakin Dekat, Kominfo Bidik Keluarga Penerima 6,7 Juta Set Top Box TV Digital Gratis

Ilustrasi TV Digital. sumber: net

Jakarta- Seiring dengan penerapan TV Digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memetakan keluarga yang akan mendapatkan Set Top Box (STB) gratis. Saat ini, pemerintah tengah melakukan Analog Switch Off (ASO) alias migrasi TV analog ke TV digital.

Sebagai informasi, set top box adalah alat khusus yang memungkinkan masyarakat dapat menikmati siaran TV digital, meskipun masih menggunakan TV yang lama.

Penerima STB ini diberikan kepada keluarga yang dinilai tidak mampu. Dengan harapan, masyarakat bisa menikmati siaran TV digital dengan pakai TV analog.Kominfo menyebutkan bahwa sumber subsidi STB ini menggunakan anggaran yang diambil langsung dari APBN.

"Setidaknya ada sekitar 6,5 juta hingga 7 juta STB. Inilah yang akan digandeng sama-sama oleh LPS. Karena ada berkepentingan dengan lahirnya TVRI maka pemerintah akan mengeluarkan anggaran untuk membantu TVRI menyediakan ini," jelas Direktur Jendral Penyelenggara Pos dan Informatika (Dirjen PPI) Ahmad M. Ramli dalam keterangan tertulisnya.

Adapun, untuk masyarakat lain disarankan membeli perangkat STB apabila televisi yang dimiliki belum mendukung siaran TV digital. Kominfo menyebutkan STB yang dijual harga pasarannya rata-rata mencapai Rp 150.000 - 250.000 per unitnya.

"Konsekuensi kebijakan ini masyarakat yang televisinya belum siap untuk digital harus menambahkan yang namanya Set Top Box (STB)," kata Ramli.

Kurang dari sebulan lagi Analog Switch Off (ASO) atau migrasi TV analog ke digital Tahap 1 selesai pada tanggal 17 Agustus 2021.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran, Kominfo menghentikan siaran TV analog secara bertahap di berbagai wilayah sampai sepenuhnya beralih ke siaran TV digital paling lambat 2 November 2022.Kominfo membagikannya ke dalam lima tahap untuk suntik mati TV analog ini. Sepanjang tahun 2021, ada dua tahap pemerintah menghentikan siaran TV analog. Sedangkan tiga tahap sisanya dikerjakan pada 2022.


Berikut tahapan migrasi TV analog ke digital:

* Tahap 1 diterapkan pada 17 Agustus 2021. Yang akan dilakukan pada enam wilayah layanan di 15 kabupaten atau kota.
* Tahap 2 diterapkan 31 Desember 2022 mencakup 20 wilayah Layanan di 44 kabupaten atau kota.
* Tahap 3 diterapkan pada 31 Maret 2022 yang direncanakan akan dilakukan pada di 30 wilayah di 107 kabupaten atau kota.
* Tahap 4 diterapkan pada 17 Agustus 2022 mencakup 31 wilayah layanan pada 110 kabupaten atau kota.
* Tahap 5 diterapkan pada 2 November 2022 dengan rencana di 24 wilayah layanan pada 63 kabupaten atau kota.

(**)
ASO Semakin Dekat, Kominfo Bidik Keluarga Penerima 6,7 Juta Set Top Box TV Digital Gratis

ASO Semakin Dekat, Kominfo Bidik Keluarga Penerima 6,7 Juta Set Top Box TV Digital Gratis

Ilustrasi TV Digital. sumber: net

Jakarta- Seiring dengan penerapan TV Digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah memetakan keluarga yang akan mendapatkan Set Top Box (STB) gratis. Saat ini, pemerintah tengah melakukan Analog Switch Off (ASO) alias migrasi TV analog ke TV digital.

Sebagai informasi, set top box adalah alat khusus yang memungkinkan masyarakat dapat menikmati siaran TV digital, meskipun masih menggunakan TV yang lama.

Penerima STB ini diberikan kepada keluarga yang dinilai tidak mampu. Dengan harapan, masyarakat bisa menikmati siaran TV digital dengan pakai TV analog.Kominfo menyebutkan bahwa sumber subsidi STB ini menggunakan anggaran yang diambil langsung dari APBN.

"Setidaknya ada sekitar 6,5 juta hingga 7 juta STB. Inilah yang akan digandeng sama-sama oleh LPS. Karena ada berkepentingan dengan lahirnya TVRI maka pemerintah akan mengeluarkan anggaran untuk membantu TVRI menyediakan ini," jelas Direktur Jendral Penyelenggara Pos dan Informatika (Dirjen PPI) Ahmad M. Ramli dalam keterangan tertulisnya.

Adapun, untuk masyarakat lain disarankan membeli perangkat STB apabila televisi yang dimiliki belum mendukung siaran TV digital. Kominfo menyebutkan STB yang dijual harga pasarannya rata-rata mencapai Rp 150.000 - 250.000 per unitnya.

"Konsekuensi kebijakan ini masyarakat yang televisinya belum siap untuk digital harus menambahkan yang namanya Set Top Box (STB)," kata Ramli.

Kurang dari sebulan lagi Analog Switch Off (ASO) atau migrasi TV analog ke digital Tahap 1 selesai pada tanggal 17 Agustus 2021.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran, Kominfo menghentikan siaran TV analog secara bertahap di berbagai wilayah sampai sepenuhnya beralih ke siaran TV digital paling lambat 2 November 2022.Kominfo membagikannya ke dalam lima tahap untuk suntik mati TV analog ini. Sepanjang tahun 2021, ada dua tahap pemerintah menghentikan siaran TV analog. Sedangkan tiga tahap sisanya dikerjakan pada 2022.


Berikut tahapan migrasi TV analog ke digital:

* Tahap 1 diterapkan pada 17 Agustus 2021. Yang akan dilakukan pada enam wilayah layanan di 15 kabupaten atau kota.
* Tahap 2 diterapkan 31 Desember 2022 mencakup 20 wilayah Layanan di 44 kabupaten atau kota.
* Tahap 3 diterapkan pada 31 Maret 2022 yang direncanakan akan dilakukan pada di 30 wilayah di 107 kabupaten atau kota.
* Tahap 4 diterapkan pada 17 Agustus 2022 mencakup 31 wilayah layanan pada 110 kabupaten atau kota.
* Tahap 5 diterapkan pada 2 November 2022 dengan rencana di 24 wilayah layanan pada 63 kabupaten atau kota.

(**)

Selasa, 27 Oktober 2020

Indonesia Mulai Cari Alien yang Hidup di Luar Planet Bumi

Indonesia Mulai Cari Alien yang Hidup di Luar Planet Bumi

Ilustrasi Alien. Net
Retorika - Alien banyak diburu keberadaannya oleh banyak negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Apakah ada alien dan kehidupan di luar Planet Bumi? Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) akan mulai meneliti planet di luar tata surya, atau exoplanet pada 2021.

Hal ini dikatakan Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikno. Menurut dia, penelitian untuk mendeteksi exoplanet akan dilakukan tahun 2021. Hal itu sudah masuk dalam rencana strategis penelitian LAPAN untuk mencari kehidupan lain atau alien dan tempat layak huni selain Bumi.

"Langkah awal dalam pencarian kehidupan lain di luar Bumi adalah mencari planet dengan kondisi yang dinilai layak huni," kata Rhorom seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, seperti dilihat Selasa (26/10/2020).

LAPAN mengatakan akan memulai studi fenomena transien. Exoplanet menurut Rhorom merupakan salah satu bentuk fenomena transien.

"Dalam rencana strategis penelitian kami, tahun depan LAPAN akan memulai studi fenomena transien, yakni fenomena yang terjadi secara insidental. Salah satu tujuannya adalah deteksi dan karakterisasi exoplanet," kata dia.

Benda langit transien tidak memiliki cahaya yang tetap. Mereka termasuk nova, supernova, semburan sinar gamma dan suar dari inti galaksi. Pun demikian dengan exoplanet karena ia baru bisa terdeteksi ketika sedang melewati bintang induknya
LAPAN optimistis bisa melakukan penelitian ini dari Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur. Kondisi langit malam di sana yang gelap, sangat ideal untuk pemantauan antariksa.

"Saat ini LAPAN belum ada program penelitian exoplanet. Namun, dengan beroperasinya Observatorium Nasional Timau di NTT, kami berharap untuk dapat melakukan deteksi dan karakterisasi exoplanet," kata Rhorom.

Perburuan exoplanet memang telah dilakukan oleh peneliti dari berbagai negara, namun Indonesia belum memulai perburuan ini meski telah memiliki lembaga antariksa LAPAN.

Jika LAPAN jadi meneliti exoplanet, maka mereka menyejajarkan diri dengan lembaga penelitian antariksa dunia lainnya. Riset exoplanet sudah banyak dilakukan di negara-negara lain. (**)


Indonesia Mulai Cari Alien yang Hidup di Luar Planet Bumi

Indonesia Mulai Cari Alien yang Hidup di Luar Planet Bumi

Ilustrasi Alien. Net
Retorika - Alien banyak diburu keberadaannya oleh banyak negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Apakah ada alien dan kehidupan di luar Planet Bumi? Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) akan mulai meneliti planet di luar tata surya, atau exoplanet pada 2021.

Hal ini dikatakan Peneliti LAPAN Rhorom Priyatikno. Menurut dia, penelitian untuk mendeteksi exoplanet akan dilakukan tahun 2021. Hal itu sudah masuk dalam rencana strategis penelitian LAPAN untuk mencari kehidupan lain atau alien dan tempat layak huni selain Bumi.

"Langkah awal dalam pencarian kehidupan lain di luar Bumi adalah mencari planet dengan kondisi yang dinilai layak huni," kata Rhorom seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, seperti dilihat Selasa (26/10/2020).

LAPAN mengatakan akan memulai studi fenomena transien. Exoplanet menurut Rhorom merupakan salah satu bentuk fenomena transien.

"Dalam rencana strategis penelitian kami, tahun depan LAPAN akan memulai studi fenomena transien, yakni fenomena yang terjadi secara insidental. Salah satu tujuannya adalah deteksi dan karakterisasi exoplanet," kata dia.

Benda langit transien tidak memiliki cahaya yang tetap. Mereka termasuk nova, supernova, semburan sinar gamma dan suar dari inti galaksi. Pun demikian dengan exoplanet karena ia baru bisa terdeteksi ketika sedang melewati bintang induknya
LAPAN optimistis bisa melakukan penelitian ini dari Observatorium Nasional Timau di Nusa Tenggara Timur. Kondisi langit malam di sana yang gelap, sangat ideal untuk pemantauan antariksa.

"Saat ini LAPAN belum ada program penelitian exoplanet. Namun, dengan beroperasinya Observatorium Nasional Timau di NTT, kami berharap untuk dapat melakukan deteksi dan karakterisasi exoplanet," kata Rhorom.

Perburuan exoplanet memang telah dilakukan oleh peneliti dari berbagai negara, namun Indonesia belum memulai perburuan ini meski telah memiliki lembaga antariksa LAPAN.

Jika LAPAN jadi meneliti exoplanet, maka mereka menyejajarkan diri dengan lembaga penelitian antariksa dunia lainnya. Riset exoplanet sudah banyak dilakukan di negara-negara lain. (**)


Selasa, 08 Oktober 2019

Musim Kemarau, Sertu Zulkarnaen Ciptakan Inovasi Buat Pakan Ternak Dari Sampah

Musim Kemarau, Sertu Zulkarnaen Ciptakan Inovasi Buat Pakan Ternak Dari Sampah

Sertu Zulkarnaen (baju loreng) disaksikan Kepala Dinas Kominfo Lampung Selatan M. Sefri Masdian saat menjelaskan proses pembuatan pakan ternak fermentasi dari sampah daun kering.
SIDOMULYO, RETORIKA – Musim kemarau tidak lagi menjadi momok bagi peternak di Kecamatan Sidomulyo, khususnya di Desa Seloretno dan Sidodadi untuk mencari pakan hijauan.
Pasalnya, peternak di wilayah itu mulai menerapkan teknologi pengolahan pakan ternak alternatif dengan teknologi fermentasi berbahan baku sampah atau dedauan kering.

Hebatnya, selain irit dan mudah dibuat sendiri, pakan ternak alternatif itu diklaim mampu bertahan hingga berbulan-bulan bahkan hingga satu tahun sehingga peternak tidak lagi khawatir dengan kelangkaan pakan hijauan dikala musim kemarau.

Adalah Sertu Zulkarnaen, anggota Koramil 421-07 Kecamatan Sidomulyo Kodim 0421 Lampung Selatan, yang bertugas sebagai Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Desa Seloretno dan Sidodadi berhasil menciptakan inovasi pakan ternak berbahan baku sampah daun kering.

Menurut Zulkarnaen, ide itu berawal dari musim kemarau yang berkepanjangan, dimana peternak sulit untuk mencari pakan ternak berupa rumput hijau.

“Ini berawal dari kelangkaan rumput hijau disaat musim kering. Dari situ saya berfikir mencari solusi menciptakan pakan ternak dari daun-daun kering,” ujar Zulkarnaen ditemui tim Diskominfo Lamsel pada Senin, 7 Oktober 2019 kemarin.

Sertu Zulkarnaen (baju loreng) bersama Kepala Dinas Kominfo Lampung Selatan M. Sefri Masdian saat memberikan pakan ternak berupa dedauan kering hasil fermentasi.
Dia menambahkan, selain kelangkaan pakan disaat kamarau, ide membuat pakan ternak fermentasi itu juga dikarenakan untuk menghemat tenaga dan waktu ditengah menjalankan tugas sebagai Babinsa.

“Ini juga menyangkut kedinasan, saya ini kan Babinsa tugasnya mangayomi masyarakat. Jadi nggak sempat mau ngarit. Dengan ini (fermentasi) saya bisa menghemat waktu dan tenaga, mau memberi makan tinggal ambil di persediaan,” ungkap Zulkarnaen.

Dia menyatakan, pembuatan pakan ternak itu pun terbilang sangat mudah dan murah, hanya dengan modal awal tidak lebih dari Rp200 ribu. Modal itu untuk membuat alat pencacah dan membeli bahan lainnya.

Dengan penuh semangat, Zulkarnaen pun menjelaskan dengan rinci tahapan-tahapan proses pembuatan pakan ternak fermentasi itu.

Pertama bahan baku utama berupa daun-daun kering atau jerami yang dipotong kecil-kecil, ditambah beberapa bahan seperti suplemen mikro organik cair, bekatul, gula pasir, dan garam yang telah dilarutkan kedalam ember. Kemudian semua bahan itu diaduk sampai merata.

Setelah semua bahan tercampur, bahan pakan ternak tersebut kemudian difermentasi dengan dimasukkan ke dalam kantong plastik maupun tong dan ditutup rapat selama 10-15 menit. Usai melalui proses fermentasi, bahan pakan ternak tersebut sudah siap digunakan.

“Sambil nunggu 10-15 menit kita bisa mengerjakan yang lain. Tetapi, semakin lama waktu fermentasinya, 4 hari atau seminggu semakin baik kualitasnya,” terangnya.

Dirasa berhasil, Zulkarnaen pun menularkan ilmunya kepada warga disekitar tempat tinggalnya. Selain sebagai Babinsa, posisi sebagai Ketua Radio Persaudaraan Penduduk Sidomulyo (RPPS) pun tidak disia-siakan Zulkarnaen untuk menularkan ilmunya kepada masyarakat di wilayahnya.

“Alhamdulillah, setelah saya jalani selama 3 bulan dan sejauh ini berhasil, bersama RPPS dan didorong serta didukung Kepala Dinas Kominfo Lampung Selatan, saya akan terus lakukan kegiatan ini untuk membantu masyarakat, khususnya peternak di Lampung Selatan,” ucapnya.

Sosok pria yang ramah dan sangat familiar terutama bagi warga Kecamatan Sidomulyo dan Candipuro ini pun berharap, kegiatannya tersebut dapat terus didukung dan disosialisasikan ke masyarakat.

Karena selain membantu peternak menciptakan pakan alternatif, kegiatannya itu juga diharapakn dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan akibat pembakaran sampah daun-daun kering.

“Mudah-mudahan ini bisa di dorong kesemua masyarakat Lampung Selatan, sehingga tidak ada lagi peternak yang kesulitan mencari pakan di musim  kemarau. Dan tidak ada lagi peternak yang menjual ternaknya ke tengkulak dengan harga murah disaat musim kemarau,” tandasnya.


Sertu Zulkarnaen (baju loreng) bersama Kepala Dinas Kominfo Lampung Selatan M. Sefri Masdian bersama anggota RPPS saat melakukan sosialisasi pekan ternak fermentasi berbahan baku sampah daun kering.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Lampung Selatan, M. Sefri Masdian sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Sertu Zulkarnaen bersama anggota RPPS tersebut.

Menurutnya, hal itu adalah suatu inovasi yang sangat luar biasa dan harus terus didukung. Sehingga kedepan harapannya tidak ada lagi peternak yang kesulitan mencari pakan hijauan.

“Ini sesuatu yang luar biasa dan harus didukung. Siapa tahu kedepan Kecamatan Sidomulyo ini bisa menjadi sentra ternak kambing atau sapi. Jika kita terus sosialisasikan, bisa saja kedepan inovasi ini akan mensejahterakan peternak yang ada di Lampung Selatan,” kata Sefri. (bs)