Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Desember 2021

Kurikulum Budaya Warisan Leluhur Indonesia Untuk Pembangunan yang Ideal di Era Digitalisasi

Kurikulum Budaya Warisan Leluhur Indonesia Untuk Pembangunan yang Ideal di Era Digitalisasi

Foto: Flickr

Kurikulum Budaya Warisan Leluhur Indonesia Untuk Pembangunan yang Ideal di Era Digitalisasi


Oleh : Bagus Galih Prakasa


Kita mulai dari perspektif komunikasi digital, sebelum membahas tentang pembangunan yang ideal di era digitalisasi yang marak terjadi belakangan ini, pemalsuan berita dan Hoax. Dalam membangun media yang jujur dan melihat dari sudut pandang era digitalisasi percepatan komunikasi, kini dapat dijangkau dengan persekian detik dan semua orang bahkan semua umur dari berbagai kalangan kini dapat melihat isi berita tersebut.


Namun apa yang terjadi, adalah pebedaan pola pikir yang semakin terlihat di era sekarang ini, perdebatan terjadi dimana mana, peselisihan paham terjadi bahkan untuk golongan atas atau pemerintah kini tidak lagi selalu menjadi yang teratas, melaikan pemerintah saat kini takluk dengan segerombolan warga di internet (netizen). 


Pemerintah tidak bisa memalsukan berita ataupun  memalsukan kasus,  the power people biasa kita sebut (netizen) tidak bakal tinggal diam mereka secara bersama sama membongkar sedikit demi sedikit tentang kasus - kasus yang dulu tidak ada atau tidak terlihat sebab media secara gamblang menyembunyikan keaslian informasi tersebut, semuanya di atur oleh pemerintah, sekarang masyarakat digital (Netizen) lebih pintar dan lebih terbuka berkat bantuan social media internet. 


Sekarang semua orang bisa mengaksesnya, ini lah yang menjadikannya bias, dunia sekarang tidak ada yang pasti membias semua nya, kontrofersi dimana mana, ribut dimana mana, kisruh tak tertahankan. Sebagai kaum terpelajar seperti kita (mahasiswa) atau siapapun yang mempunyai peran andil dalam perdamaian, dapat mencurahkan ide serta gagasan kepada masyarakat supaya tidak terpovokasi dengan berita - berita yang tidak valid.


Dalam percepatan digitalisasi juga mengancam orang, menjadi bukan seperti dirinya sendiri , role model dikalangan remaja saat ini, mereka lebih  mengacu dan mengkiblatkan orang orang luar negri atau budaya asing yang tidak berlandaskan idiologi kita sebagai bangsa Indonesia dan tidak lagi menganut adat istiadat orang melayu, dari pakaian , gaya hidup, dan Bahasa sehari hari, ditambah lagi dengan social media yang melihat dan menilai dari segi materialis, jadi sekarang terlihat sangat berbeda jauh, kesenjangan kesenjangan yang Nampak sekarang hanya  harta, tahta, dan bahkan status social.


Tapi setelah melihat dari sisi negative tentang digitalisasi ada juga dampak positif dari komunikasi digital seperti sekarang ini, kemudahan kemudahan terjadi.  Jarak ,sampai ilmu  pengetahuan  mudah didapatkan dengan cepat dibanding dulu sebelum ada  internet. Anak anak generasi sekarang lebih kreatif dan cekatan dalam informasi digital, daya pikir mereka lebih cepat terbuka berkat kecanggihan digitalilasi sekarang ini dibandingkan era analog.


Kemudian Untuk menjawab tentang masalah pembangunan  yang ideal sekarang ini di indonesia,  harus ada pendekatan tentang isu isu yang berkaitan dengan budaya kita, yaitu budaya NKRI dan terus mempertahankan ke Bhinekaan kerukunan dan adat istiadat, semua media semua partisipan dan pemerintah harus terus melestarikan budaya - budaya Indonesia lalu mengkampanyekan  budaya Indonesia dengan warisan leluhur kita. 


Di dunia pendidikan terutama, harus menerapkan nilai nilai budaya, atau kurikulum tentang budaya Indonesia  batik Indonesia contohnya diterapkan sejak pendidikan dasar sampai jenjang pendidikan sekolah menengah atas, kurikulum budaya yang di terapkan sejak dini membantu pembangunan kultur digitalisasi lebih balance dengan seiring perkembangan teknologi digital yang marak belakangan ini. Generasi muda adalah generasi yang bakal membangun peradaban di Indonesia nantinya.


Supaya ditanmkan sejak dini, pemerintah serta jajaran kaum yang mengatur tentang pendidikan, ekonomi serta politik harus membuat kebijakan tentang kebudayaan. Indonesia akan terus ada karena adanya kebudayaan  nenek moyang yang terus diwariskan sampai kelak cucu – cucu kita nanti. 


Menerapkan kesenian daerah juga memacu perkembangan moral adat istiadat yang menjadikan sebagai karakter budaya Indonesia yang kreatif, dengan memperbanyak isu isu atau konten – konten budaya di media social. Hal tersebut akan menimbulkan semangat untuk menjaga budaya Indonesia yang saat ini mulai memudar akibat perkembangan digitalisasi modern, kita akan mampu melestarikan budaya Indonesia sehingga pembangunan khususnya di Indonesia tidak rapuh dan kita sebagai bangsa Indonesia akan mempunyai jati diri dan mempunyai ciri khas bangsa itu sendiri.  Karena  banyak negara – negara  lain yang tidak memilikinya, banyak sekali aspek - aspek yang harus di kampanyekan kembali tentang melestarikan kebudayaan Indonesia, jangan sampai kita kehilangan lagi dan budaya kita diakui negara lain. 

Bagus Galih Prakasa


Kurikulum Budaya Warisan Leluhur Indonesia Untuk Pembangunan yang Ideal di Era Digitalisasi

Kurikulum Budaya Warisan Leluhur Indonesia Untuk Pembangunan yang Ideal di Era Digitalisasi

Foto: Flickr

Kurikulum Budaya Warisan Leluhur Indonesia Untuk Pembangunan yang Ideal di Era Digitalisasi


Oleh : Bagus Galih Prakasa


Kita mulai dari perspektif komunikasi digital, sebelum membahas tentang pembangunan yang ideal di era digitalisasi yang marak terjadi belakangan ini, pemalsuan berita dan Hoax. Dalam membangun media yang jujur dan melihat dari sudut pandang era digitalisasi percepatan komunikasi, kini dapat dijangkau dengan persekian detik dan semua orang bahkan semua umur dari berbagai kalangan kini dapat melihat isi berita tersebut.


Namun apa yang terjadi, adalah pebedaan pola pikir yang semakin terlihat di era sekarang ini, perdebatan terjadi dimana mana, peselisihan paham terjadi bahkan untuk golongan atas atau pemerintah kini tidak lagi selalu menjadi yang teratas, melaikan pemerintah saat kini takluk dengan segerombolan warga di internet (netizen). 


Pemerintah tidak bisa memalsukan berita ataupun  memalsukan kasus,  the power people biasa kita sebut (netizen) tidak bakal tinggal diam mereka secara bersama sama membongkar sedikit demi sedikit tentang kasus - kasus yang dulu tidak ada atau tidak terlihat sebab media secara gamblang menyembunyikan keaslian informasi tersebut, semuanya di atur oleh pemerintah, sekarang masyarakat digital (Netizen) lebih pintar dan lebih terbuka berkat bantuan social media internet. 


Sekarang semua orang bisa mengaksesnya, ini lah yang menjadikannya bias, dunia sekarang tidak ada yang pasti membias semua nya, kontrofersi dimana mana, ribut dimana mana, kisruh tak tertahankan. Sebagai kaum terpelajar seperti kita (mahasiswa) atau siapapun yang mempunyai peran andil dalam perdamaian, dapat mencurahkan ide serta gagasan kepada masyarakat supaya tidak terpovokasi dengan berita - berita yang tidak valid.


Dalam percepatan digitalisasi juga mengancam orang, menjadi bukan seperti dirinya sendiri , role model dikalangan remaja saat ini, mereka lebih  mengacu dan mengkiblatkan orang orang luar negri atau budaya asing yang tidak berlandaskan idiologi kita sebagai bangsa Indonesia dan tidak lagi menganut adat istiadat orang melayu, dari pakaian , gaya hidup, dan Bahasa sehari hari, ditambah lagi dengan social media yang melihat dan menilai dari segi materialis, jadi sekarang terlihat sangat berbeda jauh, kesenjangan kesenjangan yang Nampak sekarang hanya  harta, tahta, dan bahkan status social.


Tapi setelah melihat dari sisi negative tentang digitalisasi ada juga dampak positif dari komunikasi digital seperti sekarang ini, kemudahan kemudahan terjadi.  Jarak ,sampai ilmu  pengetahuan  mudah didapatkan dengan cepat dibanding dulu sebelum ada  internet. Anak anak generasi sekarang lebih kreatif dan cekatan dalam informasi digital, daya pikir mereka lebih cepat terbuka berkat kecanggihan digitalilasi sekarang ini dibandingkan era analog.


Kemudian Untuk menjawab tentang masalah pembangunan  yang ideal sekarang ini di indonesia,  harus ada pendekatan tentang isu isu yang berkaitan dengan budaya kita, yaitu budaya NKRI dan terus mempertahankan ke Bhinekaan kerukunan dan adat istiadat, semua media semua partisipan dan pemerintah harus terus melestarikan budaya - budaya Indonesia lalu mengkampanyekan  budaya Indonesia dengan warisan leluhur kita. 


Di dunia pendidikan terutama, harus menerapkan nilai nilai budaya, atau kurikulum tentang budaya Indonesia  batik Indonesia contohnya diterapkan sejak pendidikan dasar sampai jenjang pendidikan sekolah menengah atas, kurikulum budaya yang di terapkan sejak dini membantu pembangunan kultur digitalisasi lebih balance dengan seiring perkembangan teknologi digital yang marak belakangan ini. Generasi muda adalah generasi yang bakal membangun peradaban di Indonesia nantinya.


Supaya ditanmkan sejak dini, pemerintah serta jajaran kaum yang mengatur tentang pendidikan, ekonomi serta politik harus membuat kebijakan tentang kebudayaan. Indonesia akan terus ada karena adanya kebudayaan  nenek moyang yang terus diwariskan sampai kelak cucu – cucu kita nanti. 


Menerapkan kesenian daerah juga memacu perkembangan moral adat istiadat yang menjadikan sebagai karakter budaya Indonesia yang kreatif, dengan memperbanyak isu isu atau konten – konten budaya di media social. Hal tersebut akan menimbulkan semangat untuk menjaga budaya Indonesia yang saat ini mulai memudar akibat perkembangan digitalisasi modern, kita akan mampu melestarikan budaya Indonesia sehingga pembangunan khususnya di Indonesia tidak rapuh dan kita sebagai bangsa Indonesia akan mempunyai jati diri dan mempunyai ciri khas bangsa itu sendiri.  Karena  banyak negara – negara  lain yang tidak memilikinya, banyak sekali aspek - aspek yang harus di kampanyekan kembali tentang melestarikan kebudayaan Indonesia, jangan sampai kita kehilangan lagi dan budaya kita diakui negara lain. 

Bagus Galih Prakasa


Jumat, 01 Mei 2020

Pekerja Kerah Biru Kehilangan Kerahnya

Pekerja Kerah Biru Kehilangan Kerahnya

Opini, Oleh: VERI DIAL ARYATAMA, Wartawan Radar Lamsel

Seratus tiga puluh empat tahun silam, tepatnya 1 Mei 1886 di Amerika Serikat, 300 ribu lebih pekerja kerah biru alias buruh mengukir sejarah mogok kerja besar-besaran.

Mogok kerja kala itu merupakan buntut dari emosi buruh yang membuncah. Mereka menganggap jam kerja teramat panjang tanpa jeda yang manusiawi, sehingga waktu individu untuk beristirahat dan rekreasi terkorbankan.

Masih di tempat yang sama, tiga hari setelahnya, tepatnya 4 Mei 1886. Kaum buruh kembali menggelar aksi. Kali ini massa yang datang lebih besar dari sebelumnya. Bentrok dengan polisi pun tak terelakkan.

Polisi disana menembaki para demonstran, ledakan bom terjadi. Akibat kerusuhan antara buruh dan polisi, ratusan buruh tewas, tak sedikit yang luka-luka. Jangan tanya para pemimpin aksi mereka. Sebab mereka ditangkap lalu dihukum mati, usai peristiwa itu mereka dikenang sebagai Martyrs; orang-orang yang berkorban sampai mati.

Sebagaimana Trade Union Right Centre menyampaikan; Tiga tahun berselang, pada 1889. Kongres sosialis internasional di Paris, Perancis menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional yang peringatannya kembali dikenang hari ini, Jum’at 1 Mei 2020.

Di Indonesia, kaum buruh ‘totok’ punya pahlawannya sendiri. Diantaranya ialah Marsinah, Marsinah mati muda pada masa orde baru akibat terlalu lantang memperjuangkan hak-hak buruh yang dinilai jauh dari kata layak. Ia menuntut pabrik tempatnya bekerja agar menaikan upah buruh namun permintaannya ditolak. Kabar yang beredar ia diculik lalu mayatnya ditemukan di tengah hutan dengan luka memar disekujur tubuhnya; sebelum dibunuh ia diperkosa terlebih dahulu. Begitu kisah kelamnya.

Tak heran, Jika legend literatur tanah air Sapardi Djoko Damono marah atas apa yang terjadi terhadap Marsinah. Kemarahan Pak Sapardi, abadi dalam sajak berjudul ‘Dongeng Marsinah’ yang bagi pendengar medioker seperti saya pada sajak itu tersimpan pesan tingkat tinggi.

Kini, tidaklah sulit membedakan mana pekerja kerah biru lalu mana pekerja kerah putih. Biasanya saat peringatan MayDay pekerja kerah biru paling dominan memenuhi jalanan untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tak kunjung terpenuhi dengan hadangan yang berbeda-beda pada tiap generasinya.

Nasib para buruh kian menjadi. Belum lagi usai penolakan Omnibuslaw RUU Cipta Kerja, pekerja kerah biru itu justru tak sedikit yang kehilangan kerahnya karena ter-PHK.

Dikutip dari m.detik.com Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan pemerintah agar mewaspdai lonjakan jumlah pengangguran dan masyarakat miskin. “ Skenario paling berat akan ada tambahan 3,78 juta orang miskin dan penambahan pengangguran 5,23 juta orang,” ujar Lestarie, yang akrab disapa Rerie.

Apa yang dikhawatirkan Rerie sejatinya bukanlah menakut-nakuti. Realita itu makin nyata ketika dunia disibukkan dengan penanganan covid-19. Banyak pekerja kerah biru dirumahkan oleh pabrik atau perusahaan tempatnya bekerja.

Persoalan ini kian kompleks ketika mereka yang kehilangan pekerjaannya terpaksa harus meninggalkan zona merah covid-19. Masalah lain muncul, pemerintah ramai-ramai menyekat mereka yang pulang kampung (pulkam), mudik, dua kata terakhir tafsirkan sendiri.

Terlepas dari kekhawatiran massal manusia dari zona merah itu terpapar covid19 atau tidak, tersimpan cerita pilu dibalik kepulangan mereka. Mereka pulang karena kehilangan kerahnya, tak makan di perantauan, di ibu kota biaya hidup tak gratis. Teman seperkopian berkelakar disana “kentut pun bayar”. Atas segudang masalah yang dihadapi itu mereka lalu memutusukan pulang ke tanah kelahirannya kendati dilarang.

Bagi yang lajang, masihlah enak diurus atau hidupnya ditanggung orang tua mereka. Tapi coba bayangkan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan tetapi punya anak dan istri.

“ Kau tahu, aku punya istri dan anak. Anakku masih sangat kecil, sekarang dia masih saangat lucu, bahagia. Tapi, jika aku kehilangan pekerjaanku...” keluh Pinneberg tokoh dalam tulisan karya Rudolf Wilhelm Friedrich Ditzen berjudul ‘Lelaki Malang Kenapa Laagi?’.

Tidaklah berimbang jika dalam tulisan ini tak menyinggung nasib para buruh di daerah yang UMK nya belum layak. Sekalipun naik, naiknya berjalan seperti bekicot. Kalaupun naik acap kenaikan sarat aroma politik. Sebab buruh kerap jadi gorengan janji manis politikus sebelum merengkuh tahta bidikannya. Begitulah buruh, tak pernah lepas dari belenggu politik.

Belum banyak bakal calon pemimpin yang mengusung gagasan memperjuangkan kesejahteraan buruh utamanya calon pemimpin daerah. Kalaupun ada yang demikian sangatlah jarang menepati janji-janjijnya, ada satu yang pernah berbincang dengan saya tak usah disebut namanya. Dia pernah bicara bahwa tenaga kerja erat kaitannya dengan lapangan pekerjaan, jika ingin roda perekonomian maju maka upah kelas pekerja mesti diutamakan. Begitu menurutnya. Pertanyaannya seberapa tersedia lapangan pekerjaan di Gerbang Sumatera ini?.

Bukan rahasia jika muda-mudi daerah ini hengkang ke tanah jawa, bahkan ke negeri Cina, Arab atau Malaysia. Tak jarang terdengar TKI itu muncul dalam pemberitaan, bukan berita prestasinya tetapi sepak terjangnya di negeri seberang dari yang nahas, maaf: digagahi majikan sampai yang naif; mencuri harta majikan. Mengapa demikian? karena di bumi mereka sendiri sulit mendapat pekerjaan dan sukar mendapat upah layak.

Maka tidaklah pongah jika dalam Pemilihan kelak, tulisan ini berharap lahir pemimpin yang berjuang sebaik-baiknya, sebenar-benarnya bagi kaum buruh. Kita mesti optimis, selepas covid-19 lahir pemimpin yang ramah dengan kepentingan isu buruh. Sangking optimisnya dalam hati saya menjatuhkan pilihan kepada si calon yang demikian itu. Masalah saya memilih atau tidak, itu adalah hak bukan kewajiban.

Ngomong-ngomong ada yang sering dialami para buruh, sih. Apa? Sudah bekerja namun keringat acap kering menunggu upahnya. Sekedar mengingatkan para borjouis model itu mesti hafalan satu hadits shahih agar hubungan dengan proletar tetap dalam tarcknya. ‘Berikanlah kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering’ (HR. Ibnu Majah).

Apakah kita akan memaklumi persoalan upah belum layak atau belum terbayarkan, atau PHK disana-sini? Seharusnya tidak. Bahkan Pasangan muda Pinneberg dan Lammchen serta bayi mereka dalam alur cerita ‘Lelaki Malang Kenapa Lagi?’ pun tahu, ada kedzaliman menimpa para buruh. Mari berharap agar MayDay bukan Holiday selamanya, karena anda kehilangan kerah. (*)
Pekerja Kerah Biru Kehilangan Kerahnya

Pekerja Kerah Biru Kehilangan Kerahnya

Opini, Oleh: VERI DIAL ARYATAMA, Wartawan Radar Lamsel

Seratus tiga puluh empat tahun silam, tepatnya 1 Mei 1886 di Amerika Serikat, 300 ribu lebih pekerja kerah biru alias buruh mengukir sejarah mogok kerja besar-besaran.

Mogok kerja kala itu merupakan buntut dari emosi buruh yang membuncah. Mereka menganggap jam kerja teramat panjang tanpa jeda yang manusiawi, sehingga waktu individu untuk beristirahat dan rekreasi terkorbankan.

Masih di tempat yang sama, tiga hari setelahnya, tepatnya 4 Mei 1886. Kaum buruh kembali menggelar aksi. Kali ini massa yang datang lebih besar dari sebelumnya. Bentrok dengan polisi pun tak terelakkan.

Polisi disana menembaki para demonstran, ledakan bom terjadi. Akibat kerusuhan antara buruh dan polisi, ratusan buruh tewas, tak sedikit yang luka-luka. Jangan tanya para pemimpin aksi mereka. Sebab mereka ditangkap lalu dihukum mati, usai peristiwa itu mereka dikenang sebagai Martyrs; orang-orang yang berkorban sampai mati.

Sebagaimana Trade Union Right Centre menyampaikan; Tiga tahun berselang, pada 1889. Kongres sosialis internasional di Paris, Perancis menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional yang peringatannya kembali dikenang hari ini, Jum’at 1 Mei 2020.

Di Indonesia, kaum buruh ‘totok’ punya pahlawannya sendiri. Diantaranya ialah Marsinah, Marsinah mati muda pada masa orde baru akibat terlalu lantang memperjuangkan hak-hak buruh yang dinilai jauh dari kata layak. Ia menuntut pabrik tempatnya bekerja agar menaikan upah buruh namun permintaannya ditolak. Kabar yang beredar ia diculik lalu mayatnya ditemukan di tengah hutan dengan luka memar disekujur tubuhnya; sebelum dibunuh ia diperkosa terlebih dahulu. Begitu kisah kelamnya.

Tak heran, Jika legend literatur tanah air Sapardi Djoko Damono marah atas apa yang terjadi terhadap Marsinah. Kemarahan Pak Sapardi, abadi dalam sajak berjudul ‘Dongeng Marsinah’ yang bagi pendengar medioker seperti saya pada sajak itu tersimpan pesan tingkat tinggi.

Kini, tidaklah sulit membedakan mana pekerja kerah biru lalu mana pekerja kerah putih. Biasanya saat peringatan MayDay pekerja kerah biru paling dominan memenuhi jalanan untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang tak kunjung terpenuhi dengan hadangan yang berbeda-beda pada tiap generasinya.

Nasib para buruh kian menjadi. Belum lagi usai penolakan Omnibuslaw RUU Cipta Kerja, pekerja kerah biru itu justru tak sedikit yang kehilangan kerahnya karena ter-PHK.

Dikutip dari m.detik.com Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan pemerintah agar mewaspdai lonjakan jumlah pengangguran dan masyarakat miskin. “ Skenario paling berat akan ada tambahan 3,78 juta orang miskin dan penambahan pengangguran 5,23 juta orang,” ujar Lestarie, yang akrab disapa Rerie.

Apa yang dikhawatirkan Rerie sejatinya bukanlah menakut-nakuti. Realita itu makin nyata ketika dunia disibukkan dengan penanganan covid-19. Banyak pekerja kerah biru dirumahkan oleh pabrik atau perusahaan tempatnya bekerja.

Persoalan ini kian kompleks ketika mereka yang kehilangan pekerjaannya terpaksa harus meninggalkan zona merah covid-19. Masalah lain muncul, pemerintah ramai-ramai menyekat mereka yang pulang kampung (pulkam), mudik, dua kata terakhir tafsirkan sendiri.

Terlepas dari kekhawatiran massal manusia dari zona merah itu terpapar covid19 atau tidak, tersimpan cerita pilu dibalik kepulangan mereka. Mereka pulang karena kehilangan kerahnya, tak makan di perantauan, di ibu kota biaya hidup tak gratis. Teman seperkopian berkelakar disana “kentut pun bayar”. Atas segudang masalah yang dihadapi itu mereka lalu memutusukan pulang ke tanah kelahirannya kendati dilarang.

Bagi yang lajang, masihlah enak diurus atau hidupnya ditanggung orang tua mereka. Tapi coba bayangkan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan tetapi punya anak dan istri.

“ Kau tahu, aku punya istri dan anak. Anakku masih sangat kecil, sekarang dia masih saangat lucu, bahagia. Tapi, jika aku kehilangan pekerjaanku...” keluh Pinneberg tokoh dalam tulisan karya Rudolf Wilhelm Friedrich Ditzen berjudul ‘Lelaki Malang Kenapa Laagi?’.

Tidaklah berimbang jika dalam tulisan ini tak menyinggung nasib para buruh di daerah yang UMK nya belum layak. Sekalipun naik, naiknya berjalan seperti bekicot. Kalaupun naik acap kenaikan sarat aroma politik. Sebab buruh kerap jadi gorengan janji manis politikus sebelum merengkuh tahta bidikannya. Begitulah buruh, tak pernah lepas dari belenggu politik.

Belum banyak bakal calon pemimpin yang mengusung gagasan memperjuangkan kesejahteraan buruh utamanya calon pemimpin daerah. Kalaupun ada yang demikian sangatlah jarang menepati janji-janjijnya, ada satu yang pernah berbincang dengan saya tak usah disebut namanya. Dia pernah bicara bahwa tenaga kerja erat kaitannya dengan lapangan pekerjaan, jika ingin roda perekonomian maju maka upah kelas pekerja mesti diutamakan. Begitu menurutnya. Pertanyaannya seberapa tersedia lapangan pekerjaan di Gerbang Sumatera ini?.

Bukan rahasia jika muda-mudi daerah ini hengkang ke tanah jawa, bahkan ke negeri Cina, Arab atau Malaysia. Tak jarang terdengar TKI itu muncul dalam pemberitaan, bukan berita prestasinya tetapi sepak terjangnya di negeri seberang dari yang nahas, maaf: digagahi majikan sampai yang naif; mencuri harta majikan. Mengapa demikian? karena di bumi mereka sendiri sulit mendapat pekerjaan dan sukar mendapat upah layak.

Maka tidaklah pongah jika dalam Pemilihan kelak, tulisan ini berharap lahir pemimpin yang berjuang sebaik-baiknya, sebenar-benarnya bagi kaum buruh. Kita mesti optimis, selepas covid-19 lahir pemimpin yang ramah dengan kepentingan isu buruh. Sangking optimisnya dalam hati saya menjatuhkan pilihan kepada si calon yang demikian itu. Masalah saya memilih atau tidak, itu adalah hak bukan kewajiban.

Ngomong-ngomong ada yang sering dialami para buruh, sih. Apa? Sudah bekerja namun keringat acap kering menunggu upahnya. Sekedar mengingatkan para borjouis model itu mesti hafalan satu hadits shahih agar hubungan dengan proletar tetap dalam tarcknya. ‘Berikanlah kepada seorang pekerja upahnya sebelum keringatnya kering’ (HR. Ibnu Majah).

Apakah kita akan memaklumi persoalan upah belum layak atau belum terbayarkan, atau PHK disana-sini? Seharusnya tidak. Bahkan Pasangan muda Pinneberg dan Lammchen serta bayi mereka dalam alur cerita ‘Lelaki Malang Kenapa Lagi?’ pun tahu, ada kedzaliman menimpa para buruh. Mari berharap agar MayDay bukan Holiday selamanya, karena anda kehilangan kerah. (*)

Minggu, 15 Maret 2020

Pemandangan Tak Lazim di Jalan Lintas Sumatera

Pemandangan Tak Lazim di Jalan Lintas Sumatera

RO - Banyak kita jumpai rusaknya prasarana jalan di sekitar kita dengan berbagai tingkat kerusakannya. Kerusakan jalan itu terkadang menyebabkan kubangan-kubangan.

Kondisi tersebut, tentunya akan mengganggu kenyamanan dan membahayakan pengguna jalan yang melewati jalan tersebut, khususnya penegendara roda dua.

Secara teknis, kerusakan jalan menunjukkan suatu kondisi dimana struktural dan fungsional jalan sudah tidak mampu memberikan pelayanan optimal bagi siapa saja yang melintasi jalan tersebut. 
Seperti halnya dengan kondisi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) KM 67-68 yang terletak di Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
Miris memang melihatnya, hingga saat ini jalur yang menjadi akses utama bagi sebagian masyarakat yang hendak menuju ke Pulau Jawa asal Pulau Sumatera ataupun arah sebaliknya itu, kini bagaikan kubangan raksasa jika tersiram hujan deras.
Kondisi di Jalinsum KM 67-68
Mungkin, saat ini kondisi itu sangat berbanding terbalik, jika kita melihat jalan-jalan yang berada di pelosok desa yang kebanyakan telah memiliki kontruksi dari beton yang kokoh.
Kerusakan itu sudah berlangsung lama, apalagi semenjak dibangunnya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Jalinsum kini seolah dianak-tirikan dan dibiarkan perawatannya, hanya sebatas tambal sulam saja, itupun kadang menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Berbeda halnya dengan dengan Jalinsum KM 67-68, di Jalinsum KM 60-61 Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan, terdapat pemandangan tak lazim di Jalinsum tersebut.
Bagaimana tidak, ada dua buah traffic cone atau kerucut lalu lintas di tengah-tengah jalur yang menuju arah Bakauheni dari arah Bandarlampung.

Kondisi Jalinsum KM 60-61
Mungkin, pemasangan traffic cone tersebut bertujuan untuk menghindari pengguna dari kecelakaan, mengingat ada sebuah lubang yang cukup dalam di sela-sela antara dua traffic cone itu.
Disinilah sinergitas pemerintah baik Pusat, Provinsi ataupun Daerah sangat dibutuhkan untuk memperbaiki jalan penghubung seluruh provinsi yang ada di Pulau Sumatera itu. Mengingat, pengguna jalan sudah tidak tahan dengan kondisi jalan yang sudah rusak sejak lama ini.
Tentunya, pemerintah harus cepat-cepat bertindak untuk memperbaikinya. Setelah pemerintah melakukan tindakan, kita juga sebagai masyarakat harus bisa mendukung dan jangan sampai merusak apa yang telah dibangun oleh pemerintah.
Penulis: Boby Erlanda